Agustus 2020, Jepang Awali Ekspor Alutsista Produksi Dalam Negeri

Agustus 2020, Jepang Awali Ekspor Alutsista Produksi Dalam Negeri

Dalam rilis resminya, Menteri Pertahanan Jepang, Taro Kono pada 28 Agustus 2020 lalu, pihaknya telah menandatangani kontrak jual beli Advandced Air Surveillance Radar produksi Mitsubishi Electric Corporation (Melco) dengan pemerintah Filipina[1]. Kabarnya, radar tersebut sudah mengusung teknologi J/FPS-3ME Active Electronically Scanned Array (AESA) systems dan mobile J/TPS-P14ME[2], seperti yang digunakan pada beberapa alutsista Japan Air Self Defense Force (JASDF). Kontrak senilai satu juta USD ini menjadi produk pertama yang secara resmi sejak Jepang melonggarkan kebijakan penjualan alutsista secara utuh keluar negeri pada 2014. Sebelumnya, sejak tahun 1967, Jepang hanya diijinkan mengekspor komponen tertentu yang menjadi bagian dari alutsista, seperti gyroscope pada sistem rudal Patriot.

Lebih rinci, pembelian radar ini, oleh Pemerintah Filipina ditujukan untuk memperkuat pengawakan kekuatan radar khususnya yang meng-cover kawasan Laut China Selatan (LCS). Sebagaimana diketahui, pihak China masih secara agresif melakukan aktitivitas di sekitaran wilayah LCS yang dipersengketakan negara sekelilingnya (termasuk Indonesia). Pemerintah Jepang dikabarkan juga akan berbagi data tangkapan radar di Okinawa, sesuai perjanjian bahwa Filipina juga akan mengirim data di area Bashi Channel (antara Taiwan dan Pulau Batan, Filipina). Sebelumnya, Jepang juga telah menghibahkan lima pesawat TC-90 intai maritim, komponen helikopter UH-1H dan pelatihan pilotnya kepada pihak Filipina. Langkah tersebut menunjukkan upaya Jepang yang masif sebagai strategi dalam melawan China di kawasan LCS.

Jepang sebenarnya juga menargetkan penjualan alutsista buatan dalam negerinya kepada Australia, India, Selandia Baru, Uni Emirat Arab dan Vietnam (serta Indonesia[3]). Proses menembus blokade ekspor alutsista ini berjalan cukup alot, sejak Jepang ditetapkan kalah dalam Perang Dunia II dan mengubah haluan militer negaranya menjadi sistem Bela Diri (Self Defense Force, SDF). Meskipun lambat laun, pesatnya teknologi di Jepang tak bisa dibendung hingga akhirnya merambah ranah persenjataan pasukan SDF (pesawat jet tempur, kapal selam dan tank), industri strategis tersebut tetap tidak dapat meraup keuntungan karena keterbatasan pasar/konsumen.

Perkembangan situasi terakhir di kawasan Semenanjung Korea, konflik dengan China seputar LCS dan kerawanan jalur tanker di Timur Tengah akhirnya memaksa pemerintah Jepang untuk secara bertahap mengikis blokade dari dalam negerinya. Pemilihan kata “Defense Equipment and Technology (防衛装備=bouei shoubi)” pada aturan “Three Principles on Transfer of Defense Equipment and Technology(防衛装備移転三原則)[4]” ketimbang menyebut sebagai “Arms (武器=buki)” sempat menuai kecaman dari masyarakatnya ketika parlemen akhirnya menuangkan hal tersebut pada Buku Putih Pertahanan tahun 2014.

Permasalahan lainnya, alutsista buatan Jepang ini masih dinilai cukup mahal. Kontrak empat unit radar dengan Filipina ini dikabarkan setara dengan lima radar yang ditawarkan oleh kerjasama Lockheed dan Elta, Israel[5]. Klaim dari pihak Jepang sendiri, bahwa produk buatan Mitsubishi ini kinerjanya jauh lebih tinggi, sejalan dengan konsep JSDF dalam pemenuhan kebutuhan alutsistanya yang mengedepankan prinsip kualitas ketimbang kuantitas, sebagai respon terhadap pesatnya perkembangan teknologi persenjataan di China. Menyusutnya jumlah tenaga kerja, juga calon prajurit JSDF, serta ketiadaan saingan terhadap industri alutsista dalam negeri dinilai turut memberikan andil atas mahalnya produk Jepang.

Tantangan lain yang harus dihadapi Jepang, sebagai pemain baru dalam persaingan pasar alutsista global, adalah keterbatasan mitra dalam mewujudkan interoperabilitas produknya. Meski memiliki teknologi tinggi, konsumen tetap cenderung akan memilih produk yang harganya lebih murah dan dapat diintegrasikan dengan sistem yang sudah mereka miliki sebelumnya. Seperti saat Australia hendak membeli kapal selam jenis Soryu (sudah menggunakan baterai lithium-ion sebagai sumber tenaga utama yang lebih aman, senyap dan bertenaga), namun akhirnya jatuh kepada Perancis setelah menyetujui perakitan dilaksanakan di Australia[6].

[1] https://mainichi.jp/articles/20200828/k00/00m/010/173000c

[2] https://obaradai.com/index.php/2020/02/26/upgrade-aesa-radar-pesawat-tempur-jepang-saingi-amerika/

[3] https://obaradai.com/index.php/2016/02/23/upaya-meningkatkan-kemampuan-pengamanan-dan-sar-tni-au-di-laut-dan-wilayah-terpencil-menggunakan-pesawat-amfibi-di-masa-mendatang/

[4] https://www.mofa.go.jp/press/release/press22e_000010.html

[5] https://www.forbes.com/sites/sebastienroblin/2020/09/11/japan-strikes-first-arms-export-deal-can-tokyo-find-more-buyers-for-its-pricy-weapons/#7e18879b2a5e

[6] https://obaradai.com/index.php/2016/08/02/geliat-industri-pertahanan-jepang-22/

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply