Sistem Pertahanan Rudal Balistik di Jepang

Sistem Pertahanan Rudal Balistik di Jepang

Sebagai kelanjutan tulisan sebelumnya, Jepang memiliki Sistem Pertahanan Rudal Balistik dalam menanggapi ancaman khususnya Rudal Balistik dari Korea Utara. Investasi dalam Sistem Pertahanan Rudal Balistik (Ballistic Missile Defense / BMD) telah dimulai sejak tahun 2004. Tahun berikutnya, Jepang mengamandemen Undang-Undang yang mengatur peran Japan Self Defense Force (JSDF) dan memulai kerjasama pengembangan teknologi Sistem Pertahanan Rudal Balistik dengan sekutunya, Amerika Serikat. Kebutuhan akan Sistem Pertahanan Rudal Balistik yang mumpuni semakin nyata, setelah insiden Percobaan IRBM jenis Hwasong-12 oleh Korea Utara pada 29 Agustus 2017 silam, yang mana rudal tersebut melintas di atas wilayah udara Pulau Hokkaido, Jepang.

Unsur-Unsur yang Terlibat

Sistem Pertahanan Rudal Balistik Jepang meliputi unsur-unsur sebagai berikut:

1. Kapal Destroyer (DDG) Japan Maritime Self Defense Force (JMSDF) kelas Atago dan kelas Kongo, yang dilengkapi dengan sistem AEGIS, Radar AN/SPY-1D(V), dan Rudal SM-3 Block IA.

Destroyer Kelas Atago

2. Rudal Patriot PAC-3 milik Japan Air Self Defense Force (JASDF).

Rudal Patriot PAC – 3

3. Air Control and Warning RADAR FPS-5 dan FPS-3 milik JASDF.

Radar J/FPS-5 yang terpasang di Pangkalan JASDF

4. Japan Aerospace Defense Ground Environment (JADGE), adalah pusat komando dan pengendalian dari Sistem Pertahanan Rudal Balistik di Jepang.

Skema Pertahanan Rudal Balistik Jepang

Skema Pertahanan Rudal Balistik

Skema sistem Pertahanan Rudal Balistik Jepang adalah sebagai berikut:

1. Boost Phase : Saat Korea Utara meluncurkan rudal balistik, energi panas yang dihasilkan oleh mesin roket dari rudal akan terdeteksi oleh satelit, dan termonitor oleh JADGE.

2. Mid-course Phase : Mesin roket sudah kehabisan bahan bakar dan rudal balistik berada di luar angkasa. Pada tahap ini, Radar FPS-5 dan FPS-3 milik JASDF, serta Radar AN/SPY-1D(V) yang dipasang di kapal Destroyer (DDG) kelas Atago dan kelas Kongo melakukan deteksi, identifikasi, dan tracking terhadap rudal balistik tersebut.

Uji coba peluncuran rudal SM-3 Block IB dari Destroyer kelas Atago

Pada tahap ini, JADGE akan memberikan keputusan untuk menembak jatuh rudal tersebut atau tidak. Setelah ada perintah, kapal Destroyer kelas Atago akan meluncurkan rudal SM-3 Block IA untuk menembak jatuh rudal balistik tersebut.

3. Terminal Phase : Jika rudal SM-3 Block IA yang diluncurkan tidak mengenai rudal balistik tersebut, maka langkah selanjutnya adalah menembak jatuh rudal tersebut ketika sudah memasuki atmosfer. Pada tahap ini, jarak tembak tidak terlalu tinggi sehingga JADGE akan memerintahkan JASDF untuk menembak jatuh rudal tersebut dengan rudal Patriot PAC-3.

4. Setelah rudal balistik berhasil dijatuhkan, Japan Ground Self Defense Force (JGSDF) akan bergerak untuk membersihkan serpihan rudal balistik tersebut, dan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan.

Rencana Pengembangan Lebih Lanjut

Sistem Pertahanan Rudal Balistik ini kedepannya akan dikembangkan lebih lanjut oleh Jepang. Kapal Destroyer yang dilengkapi sistem AEGIS akan ditambah dari jumlah saat ini yaitu 6 (enam) unsur, menjadi 8 (delapan) unsur di tahun 2020 ini. Selain itu, Jepang bersama dengan AS sedang mengembangkan Rudal SM-3 Block IIA yang ke depannya akan menggantikan Rudal SM-3 Block IA yang digunakan saat ini. Penggantian Rudal SM-3 Block IA menjadi SM-3 Block IIA rencana akan diimplementasikan pada 2021. Rudal SM-3 Block IIA selain memiliki jarak jangkauan yang lebih jauh, juga diharapkan memiliki kemampuan untuk menembak jatuh rudal balistik yang dilengkapi dengan decoy, serta rudal balistik yang terbang dengan ketinggian di atas normal (lofted trajectory). Patriot PAC-3 ke depannya akan dikembangkan menjadi PAC-3MSE (Missile Segment Enhancement) yang memiliki jarak jangkauan lebih dari dua kali lipat PAC-3 saat ini.
Selain mengembangkan sistem yang sudah ada, Jepang juga berencana menambah unsur darat pada Sistem Pertahanan Rudal Balistiknya. Unsur ini disebut Aegis Ashore, yang secara harfiah berarti Aegis Darat. Sesuai dengan namanya, Aegis Ashore adalah sebuah pangkalan yang ditempatkan di darat, yang mana pangkalan tersebut memiliki kemampuan deteksi, identifikasi, tracking, serta menembak jatuh rudal balistik sebagaimana kemampuan yang dimiliki oleh kapal Destroyer kelas Atago. Hanya saja, platformnya bukan sebuah kapal, tapi berada di darat. JGSDF akan mengoperasikan alutsista yang masih dalam tahap perencanaan tersebut.

Aplikasi untuk Indonesia

Berbeda dengan Jepang, Indonesia belum menghadapi ancaman yang signifikan terhadap rudal balistik. Diplomasi bebas aktif yang dilancarkan oleh Pemerintah Indonesia semenjak era Orde Lama berhasil memposisikan Indonesia menjadi negara yang tidak memiliki banyak ancaman dari luar. Hubungan luar negeri Indonesia saat ini juga terbilang mesra terhadap negara-negara yang memiliki rudal balistik seperti AS, Rusia, India, bahkan Korea Utara sekalipun. Namun, teknologi sistem pertahanan rudal balistik ini bukan berarti tidak dapat diaplikasikan di Indonesia. Teknologi anti rudal balistik ini dapat diaplikasikan dalam skala kecil, sehingga memperkuat sistem pertahanan udara yang dimiliki oleh TNI. Bahkan, ke depannya mungkin saja sistem pertahanan tersebut mampu menghentikan serangan artileri roket atau mortir layaknya sistem Iron Dome buatan Israel. (FAW)

Referensi :
1. Japan Defense White Paper 2019, https://www.mod.go.jp/e/publ/w_paper/2019.html
2. Japan Defense White Paper 2017, Japan’s Ballistic Missile Defense, https://www.mod.go.jp/e/publ/w_paper/pdf/2017/DOJ2017_3-1-2_web.pdf
3. Gambar diambil dari Wikimedia.

Read more
mengenal rudal balistik yang menghantui pertahanan Jepang

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply