Hari Aksara dan Percetakan, siasat Jepang dalam mengembalikan semangat membaca buku

Hari Aksara dan Percetakan, siasat Jepang dalam mengembalikan semangat membaca buku

Jargon bahwa buku adalah jendela dunia, mungkin tidak seperti dulu lagi gaungnya. Seiring dengan perkembangan jaman, pamor buku sebagai sumber ilmu dirasa kian menurun; tergantikan dengan media digital yang kehadirannya semakin praktis dan efisien. Bahkan, dari data beberapa lembaga survey yang menggelar angket baru-baru ini, mereka sudah memisahkan daftar peringkatnya khusus untuk literasi digital, dan seringkali tidak sedikitpun mencerminkan minat baca buku penduduknya.

Namun, pemerintah Jepang seringkali selangkah di depan guna mengantisipasi menurunnya minat baca (terutama buku bacaan) ini. Mereka telah menetapkan tanggal 27 Oktober setiap tahunnya sebagai Hari Aksara dan Percetakan, sembari menggelar Pekan Membaca selama satu minggu. Biasanya, para pengusaha toko buku di Jepang, memanfaatkan momen ini dengan baik untuk mengundang konsumen meramaikan kembali lapak mereka.

Bahkan, beberapa tahun ini, para pelapak buku ini dengan cerdik memanfaatkan celah untuk berkolaborasi dengan pengusaha lain melalui cara yang tidak biasa untuk mendekatkan buku kepada masyarakat. Misalnya strategi yang dipakai Toko Buku Bunkitsu di area Roppongi, Tokyo. Berada di area elit ibukota yang padat lalu lalang manusia setiap harinya, toko ini malah mengutip biaya masuk bagi setiap pengunjungnya. Hal ini justru menjadikan toko ini semakin terkenal dan diminati. Di dalam toko, para konsumen dibebaskan berinteraksi dengan setiap buku selama mereka sukai, sambil menikmati kopi maupun suguhan khas teh hijau tradisional. Bahkan di tempat yang tidak terlalu jauh, yaitu Hakone Honbako Hotel (Prefektur Kanagawa), pengelolanya menyediakan setidaknya 12 ribu buku dari berbagai kategori. Mereka memanjakan para pengunjungnya dengan tambahan sajian makanan hotel dan pemandian air panas, serta memberi kebebasan untuk memiliki buku yang diminati para tamu. Semua siasat ini bertujuan sama, yaitu menambahkan pengalaman orang dalam menikmati buku, bukan melulu mengejar nilai penjualan buku, tetapi menawarkan waktu lebih untuk bersama dengan buku.

Gunung Es

Sebenarnya, ada masalah serius dibalik tren yang dilakukan para pemilik toko buku ini. Berdasarkan data, di Jepang saat ini ada sepuluh ribu toko buku yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Mirisnya, jumlah ini sebenarnya adalah separuh dari keseluruhan toko buku yang ada pada 20 tahun yang lalu. Lebih mengerikan lagi, selama 14 tahun berturut-turut, nilai penjualan dari publikasi tulisan juga menurun. Hal ini senada dengan keluhan para pengusaha di industri percetakan buku. Meskipun jumlah buku baru yang diluncurkan kepada publik setiap bulannya cukup menggembirakan, namun kebanyakan buku-buku tersebut berakhir kembali kepada penerbitnya, karena hanya menjadi tumpukan di etalase toko buku alias tidak laku terjual. Tentunya, hal ini sangat menyulitkan bagi penerbit maupun para pemilik toko.

Ada beberapa langkah yang sudah ditempuh para pengusaha ini, diantaranya menarik serta para ahli maupun tokoh masyarakat untuk “mendongkrak” penjualan dengan rekomendasi mereka terhadap buku-buku pilihan, terutama yang berpotensi menjadi best-seller. Para distributor pun diharapkan dapat menekan biaya distribusi buku mereka melalui sistem keagenan mereka. Penerbit pun dituntut semakin jeli memprediksi buku yang diperkirakan akan menarik minat baca dan laris di pasaran. Terakhir, mereka ini diharapkan dapat bekerjasama seefektif mungkin guna menciptakan alur penerbitan yang menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

Terjemahan Asing

Di tengah upaya menghadapi kelesuan penjualan buku, pada kategori novel terjemahan, beberapa karya penulis asing yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jepang berhasil mencatatkan nilai yang cukup tinggi. Karya tersebut memang telah menjadi best-seller internasional, dan setidaknya, pangsa pasar Jepang masih bergerak mengikuti tren tersebut, terlepas dari isi cerita yang dituturkan juga memenuhi kriteria yang diminati para pembaca di Jepang. Apakah orang Jepang memang tertarik dengan cara pandang orang asing maupun perbedaan cara mereka bertutur, harapannya buku tetap dapat membuka wawasan pembacanya serta kembali menempati fungsinya sebagai jendela dunia.

sumber : https://www.yomiuri.co.jp/editorial/20191026-OYT1T50292/ (diakses pada 30 Oktober 2019)

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply