Kebiasaan Orang Jepang: Rasa Cinta dan Bangga akan Pekerjaannya

Kebiasaan Orang Jepang: Rasa Cinta dan Bangga akan Pekerjaannya

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai alasan orang Jepang bekerja keras. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai kelanjutannya yaitu contoh nyata kerja keras orang Jepang khususnya dalam hal kecintaan mereka terhadap pekerjaan yang telah dirangkum oleh seorang penulis esai Jepang, Eizaburo Nishibori dalam suatu karya esainya yang berjudul “Nihonjin wa naze yoku hataraku no ka” atau “Why the Japanese Work So Hard” yang akan dibahas dalam artikel ini. Berikut adalah isi (terjemahan) dari esai tersebut.

Masyarakat Jepang memiliki kecintaan terhadap pekerjaan dan hal pengendalian mutu yang telah dimiliki sejak dahulu kala, tanpa diajarkan oleh pihak luar. Keluarga salah satu penulis esai asal Jepang, Eizaburo Nishibori, menjalankan usaha penjualan kain sutera di Kyoto, sebagai salah satu contohnya. Bisnisnya meliputi peminjaman alat pintal tradisional kepada wanita di sekitar Tango, wilayah utara Kyoto dan menjual kain sutera hasil pemintalan dan mereka.

Sekitar 60 tahun yang lalu, wilayah Tango dilanda gempa bumi yang sangat menakutkan. Pada masa itu, Eizaburo Nishibori yang masih berstatus mahasiswa diutus oleh ayahnya untuk mengunjungi wilayah pedesaan yang terkena dampak gempa bumi dengan membawa sebuah tas ransel yang dipenuhi dengan uang kontan. Wanita-wanita muda mengungsi ke tempat-tempat perlindungan dan meskipun mereka sudah tidak memiliki apa-apa kecuali pakaian yang mereka bawa, tetapi mereka dapat memastikan bahwa mereka telah membawa alat-alat pintal dan kain sutera pesanan dari konsumen yang telah mereka kerjakan. Eizaburo Nishibori sangat tergugah dan terharu dengan kenyataan yang baru saja dia lihat. Fakta bahwa mereka menyelamatkan alat-alat pintal yang sebetulnya hanya barang pinjaman (bukan milik mereka) dan kebanggan akan kain-kain sutera yang telah mereka buat yang merupakan hasil karya buatan tangan mereka adalah bukti yang menunjukkan kecintaan mereka terhadap pekerjaan yang mereka tekuni.

Di desa yang lain, Eizaburo Nishibori menemukan bahwa semua bangunan telah roboh. Dengan tidak adanya rumah-rumah atau bangunan tempat bekerja, sehingga tidak memungkinkan bagi wanita-wanita tersebut untuk terus bekerja sebagaimana yang mereka lakukan sebelum gempa bumi terjadi, maka Eizaburo Nishibori mengajak sekitar 100 wanita muda tersebut ke pabrik tenun modern milik abangnya dan memohon agar wanita-wanita tersebut diberi pekerjaan. Abang dari Eizaburo Nishibori telah belajar mengenai manajemen pabrik dari Barat dan dia sangat menekankan pentingnya efisiensi, sehingga dia keberatan untuk menerima wanita-wanita yang tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam menggunakan alat tenun otomatis yang dapat berakibat pada menurunnya efisiensi pabrik dan menyebabkan kerugian yang besar. Namun karena situasi yang darurat, maka abangnya sepakat untuk menerima wanita-wanita tersebut dan membagi pekerjaan di pabrik tersebut menjadi dua shifts serta membagi pekerjaan kepada wanita-wanita yang dibawa oleh Eizaburo Nishibori dari daerah yang terkena dampak gempa bumi.

Hanya dalam waktu kurang dari seminggu setelah bekerja di pabrik tersebut, wanita-wanita yang baru bekerja telah dapat menguasai alat tenun otomatis sebagaimana wanita-wanita yang telah bekerja lebih dahulu di pabrik tersebut. Mereka tidak hanya dapat memproduksi dalam jumlah yang sama tetapi juga dengan level kualitas yang sama. Hanya terdapat sangat sedikit lembaran kain saja yang memiliki cacat/kesalahan. Abang dari Eizaburo Nishibori sangat terkejut dengan fenomena ini, karena pada umumnya butuh waktu sekitar setengah tahun bagi orang baru untuk mempelajari tentang cara menggunakan alat pintal otomatis tersebut sehingga dia segera membentuk sebuah tim untuk mempelajari fenomena ini dan memerintahkan mereka untuk bekerja menginvestigasi kejadian unik ini.

Tim tersebut dapat dengan cepat menemukan penyebabnya. Adalah rasa kekeluargaan yang dimiliki oleh wanita-wanita baru ini serta solidaritas terhadap orang-orang yang memilki kondisi situasi yang sama adalah penyebabnya. Sebagai suatu kumpulan/kesatuan, maka pekerja baru ini terpacu untuk dapat segera menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh pekerja wanita yang telah lama bekerja di pabrik ini. Karena alasan inilah maka mereka memiliki keinginan untuk dapat memproduksi kain dengan kualitas yang tinggi, dan untuk mencapai hal ini maka mereka meluangkan waktu santai mereka untuk mempelajari tentang penggunaan alat pintal otomatis ini dari wanita-wanita yang lebih berpengalaman dari mereka. Dan ketika mereka kehabisan benang yang akan mereka pintal maka mereka akan mendorong orang yang bertanggung jawab terhadap penyediaan benang agar dapat menyiapkan benang-benang tersebut dengan cepat. Dan ketika peralatan tenun tersebut mengalami kerusakan, maka mereka akan meminta kepada teknisi untuk dapat memperbaikinya secepat mungkin. Mereka meningkatkan produktivitas dengan tidak membiarkan mesin-mesin mereka untuk beristirahat meskipun hanya dalam waktu yang singkat.

Dalam kata lain, grup wanita-wanita yang telah lama bekerja di pabrik ini sebenarnya telah terkotak-kotak dalam pekerjaan mereka secara khusus seperti mereka-mereka yang bertanggung jawab terhadap penyediaan benang dan pemeriksaan alat tenun, sehingga wanita-wanita ini tidak memiliki ketertarikan terhadap hal-hal yang bukan bidang mereka. Hal inilah yang menjadi perbedaan diantara dua kelompok wanita tersebut diatas. Kelompok wanita yang baru tidak diinstruksikan untuk berpartisipasi dalam hal pengendalian mutu, tetapi mereka telah mengembangkan sistem mereka sendiri mengenai pengendalian mutu secara alamiah melalui kepekaan solidaritas dan kebanggaan mereka terhadap pekerjaan yang mereka tekuni.

Hal tersebut diatas bukanlah satu-satunya tempat dimana penulis Eizaburo Nishibori melihat kecintaan orang Jepang terhadap pekerjaannya dan metoda pengendalian mutu independen yang mereka hasilkan. Selanjutnya penulis Eizaburo Nishibori secara bertahap mengembangkan sistem kendali mutu yang tepat untuk orang Jepang dan mulai mencobanya di pabrik perakitan peralatan elektronik. Eizaburo Nishibori memulai uji coba dengan mengabaikan sistem ban berjalan. Setiap pekerja diberikan tanggung jawab untuk menyelesaikan keseluruhan proses produksi dengan kemampuannya sendiri yang memberikan kesempatan kepada para pekerja tersebut untuk mendapatkan pengalaman untuk berkreasi. Selanjutnya Eizaburo Nishibori memberikan penjelasan kepada para pekerja mengenai tipe-tipe hasil yang diharapkan oleh pihak perusahaan dan menyampaikan kepada mereka bahwa mereka bebas untuk memilih sistem yang mereka inginkan sepanjang mereka dapat menghasilkan produk yang memiliki level kualitas yang diinginkan oleh perusahaan. Eizaburo Nishibori mempercayakan kepada para pekerja untuk memilih metoda kerjanya masing-masing. Dan sebagai hasilnya, para pekerja dapat mengembangkan kemampuanya dalam suasana kebebasan/kemandirian yang didapat dari rasa percaya tersebut.

Menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada para pekerja bahwa berarti mereka (para pekerja) harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap hasil akhir dari produk mereka. Karena alasan ini, para pekerja memilih sistem yang dapat melaksanakan pemeriksaan akhir terhadap produk-produk yang telah mereka rakit. Eizaburo Nishibori meyakini bahwa hal ini dapat menghilangkan perasaan bahwa para pekerja tersebut dipaksa untuk bekerja, yang akhirnya berdampak positif pada keinginan bekerja yang lebih besar serta membuat para pekerja untuk melihat kedepan mengenai pekerjaan selanjutnya yang harus mereka selesaikan. Eizaburo Nishibori menerapkan hal ini dalam beberapa perusahaan yang berbeda dan memperoleh hasil-hasil yang positif.

Berkaitan dengan hasil diatas, banyak perusahaan memeriksa ulang secara keseluhan cara Amerika yang yang telah diperkenalkan sebelumnya sesaat seteleh selesainya perang yang memiliki nilai-nilai yang sama baiknya dengan yang telah dimiliki orang Jepang sebelumnya. Perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya dapat menerapkan keunikan cara Jepang dalam sistem pengendalian mutu.

Salah satu alasan terbesar dari kesuksesan dalam penerapan sistem baru ini adalah sistem kepegawaian untuk seumur hidup yang dengan sempurna cocok dengan sensitivitas masyarakat Jepang. Dalam kaitan dengan sistem kepegawaian untuk seumur hidup terlihat dari rasa memiliki (sense of belonging) diantara sesama pekerja/pegawai Jepang yang sangat kuat. Sehingga ketika para pekerja tersebut diberikan target yang jelas terhadap pekerjaan yang akan mereka hadapi, maka mereka akan dapat mengkombinasikan upaya-upaya mereka untuk mencapai tujuan tersebut.

Ketika Eizaburo Nishibori menghabiskan waktu musim dinginnya di benua Antartika bersama sebuah kelompok yang terdiri atas 10 orang, mereka melakukan pendekatan pekerjaan dengan menggunakan tujuan yang sama untuk membuat pekerjaan mereka menjadi berhasil/sukses. Dengan adanya satu kesamaan tujuan yang akan dicapai inilah maka kepribadian yang berbeda diantara kelompok tersebut dapat dipersatukan dengan upaya yang kooperatif. Mereka berhasil untuk menuntaskan tugas pertama mereka dimusim dingin ini dengan memberikan setiap orang didalam kelompok ini suatu keberanian, membuat mereka merasa orang lain menghargai segala upaya-upaya yang mereka lakukan. Bentuk kerjasama seperti ini merupakan fitur penting dalam kepribadian Jepang dan Eizaburo Nishibori meyakini bahwa hal ini juga merupakan salah satu alasan kenapa orang Jepang bekerja keras.

Ketika kondisi-kondisi semakin memburuk, rasa persatuan diantara sesama anggota kelompok menjadi semakin kuat dan bertambah kuat. Ketika usaha yang mereka lakukan tidak memberikan hasil yang diharapkan, maka setiap orang akan mengkombinasikan kekuatan-kekuatan yang mereka miliki dan bekerja sama untuk membangun kembali perusahaan mereka. Ketika terjadi kepanikan dalam bidang ekonomi, mereka akan berupaya dengan seluruh kemampuan mereka untuk dapat keluar dari tekanan resesi, apalagi Jepang merupakan negara yang kerap dilanda bencana alam sejak dari jaman dahulu. Sejarah menunjukkan bahwa Jepang telah mengalami banyak bencana angin topan, gempa bumi, gelombang tinggi dan gunung meletus. Upaya-upaya kooperatif untuk membangun kembali desa-desa telah menumbuhkan solidaritas dan hubungan yang kuat diantara orang Jepang.

Seperti yang dikatakan oleh pepatah “ membalikkan bencana menjadi keberuntungan yang baik”, orang Jepang memiliki perilaku yang umum yaitu rasa optimisme terhadap pekerjaan untuk memutar gelombang keberuntungan dan membalikkan bencana ke arah yang positif. Hal ini dapat terlihat dengan jelas ketika mereka bekerja setelah perang untuk kembali merekonstruksi negara Jepang. Alasannya dikarenakan setiap orang mengkombinasikan kekuatan dan bekerja sama yang berdampak pada pemulihan negara Jepang dalam kurun waktu yang cukup singkat. Contoh nyata lainnya adalah ketika krisis minyak melanda dunia, namun Jepang sukses dalam membuat “comeback” secara cepat ketika terjadi “Oil Shock”.

Belakangan ini banyak keriuhan yang disebabkan oleh ketidak seimbangan neraca perdagangan dan gesekan-gesekan dalam bidang ekonomi, yang kesemuanya ini merupakan hal-hal yang tidak mudah untuk diprediksi di masa depan. Penulis Eizaburo Nishibori meyakini bahwa Jepang akan tetap bekerja keras seperti biasanya, dan pada akhirnya mereka akan menemukan solusi positif dari permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi. Eizaburo Nishibori yakin bahwa manajemen dalam perindustrian akan mengambil langkah-langkah kedepan untuk mengambil posisi kepemimpinan yang kuat dalam menciptakan perusahaan yang dapat disenangi baik oleh pegawai maupun konsumsennya.

Demikianlah alasan-alasan kenapa orang Jepang bekerja keras beserta contoh nyatanya dalam kehidupan masyarakat Jepang dari sudut pandang penulis esai Eizaburo Nishibori. Banyak hal-hal positif yang dapat dijadikan contoh dan teladan khususnya bagi negara-negara berkembang yang membutuhkan lebih banyak kerja keras untuk dapat lebih memajukan bangsa dan negaranya khususnya dalam bidang perekonomian.

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply