Mengenal Korosi pada Dunia Penerbangan

Mengenal Korosi pada Dunia Penerbangan

Dalam dunia penerbangan, korosi merupakan salah satu hal yang patut diberikan perhatian lebih dalam pelaksanaan pemeliharaan pesawat terbang. Mengapa demikian? Karena sudah banyak kejadian incident maupun accident pesawat terbang yang disebabkan oleh adanya korosi pada bagian skin maupun struktur pesawat.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini marilah kita mencoba mengenal lebih jauh tentang jenis-jenis korosi dan penyebabnya sehingga diharapkan melalui tulisan ini para crew teknik maskapai penerbangan yang bergelut langsung dengan pemeliharaan pesawat terbang dapat lebih waspada dan memberikan perhatian yang lebih terhadap korosi pada pesawat terbang.
Kekuatan struktur dari suatu pesawat terbang bergantung pada bagaimana pemeliharaan dan perlakuan terhadap struktur itu sendiri. Sehingga, pengamatan, treatment dan deteksi dini terhadap korosi merupakan hal yang sangat penting. Apabila korosi dibiarkan terjadi, maka kekuatan struktur tersebut akan berkurang yang bisa mempengaruhi keselamatan penerbangan ataupun mengurangi usia dari struktur pesawat.
Korosi adalah suatu aksi elektrokimia yang mengakibatkan perubahan komposisi dari struktur. Korosi menyerang seluruh bagian permukaan pada logam ataupun menyerang secara terpusat pada suatu bagian permukaan logam. Umumnya korosi merubah komposisi logam struktur menjadi serbuk-serbuk kecil yang pada akhirnya akan menghancurkan logam tersebut seluruhnya. Korosi bisa timbul karena proses mekanik, kimia maupun adanya panas yang berlebih.
Bagaimana kita mengenali warna dari korosi? Warna korosi berbeda-beda tergantung dari bahan logam yang diserangnya. Apabila bahan tersebut adalah besi, maka korosi berupa serbuk-serbuk berwarna coklat atau yang biasa kita kenal dalam kehidupan sehari-hari berupa karat. Kemudian apabila bahan tersebut adalah alumunium ataupun campuran magnesium, maka korosi akan berupa endapan berwarna abu-abu. Selanjutnya bila bahan tersebut adalah campuran tembaga, maka korosi akan berupa endapan berwarna biru kehijauan.

Jenis-Jenis Korosi pada Struktur Pesawat Terbang

Korosi bisa timbul pada tempat dan bentuk yang berbeda-beda, secara terpisah maupun kombinasi dari beberapa jenis korosi. Jenis-jenis korosi yang paling umum menyerang bagian struktur pesawat terbang adalah sebagai berikut :

  1. Korosi pada permukaan (Surface Corrosion)
    Korosi pada permukaan terjadi akibat hubungan langsung antara logam dengan oksigen (O2). Terkelupasnya cat pesawat merupakan indikasi ataupun tanda awal telah terjadi korosi pada permukaan di bawah cat maupun dibalik cat yang telah terkelupas. Korosi bisa diidentifikasikan dengan melihat serbuk-serbuk putih keabu-abuan pada permukaan campuran alumunium. Bila tidak segera diatasi, korosi pada permukaan dapat menjadi bertambah parah dan berakibat terjadinya retakan (crack) pada kulit pesawat (skin).
  2. Korosi lubang (pitting corrosion)
    Jenis korosi ini terjadi akibat berkumpulnya titik-titik kecil di dalam permukaan suatu bahan yang terlindung oleh endapan serbuk tebal. Korosi lubang biasa terjadi pada logam yang memiliki kulit alami yang mudah teroksidasi. Korosi lubang pada umumnya menyerang secara terpusat pada permukaan logam dengan kondisi sebagai berikut :
    a. Kontaminasi area bersifat lokal.
    b. Merusak perlindungan permukaan.
    c. Permukaan logam menjadi tidak beraturan.
    d. Permukaan logam berubah disebabkan oleh energi mekanik maupun pengaruh panas.
  3. Korosi serbuk (filiform corrosion)
    Korosi serbuk ditemukan pada lapisan campuran alumunium dimana titik yang berkarat masuk ke dalam lapisan alumunium. Jenis korosi ini sering berawal dari rivet kemudian berlanjut sepanjang bagian bawah permukaan cat material. Korosi ini juga terjadi di daerah sekitar rivet ataupun permukaan fastener.
  4. Korosi biologi (biological corrosion)
    Korosi jenis ini disebabkan oleh kumpulan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, alga yang terdapat pada cairan yang terkontaminasi. Korosi biologi terjadi pada cuaca yang panas dan lembab. Mikroorganisme atau jamur menghasilkan interaksi elektrokimia yang berhubungan langsung dengan kelembaban.
  5. Korosi celahan (crevice corrosion)
    Korosi ini terjadi disebabkan oleh dua material yang saling bersinggungan. Bahan kedua material tersebut bisa sama atau tidak sama, namun pada beberapa kasus, salah satu material terbuat dari non logam. Korosi celahan menghasilkan area yang tertutup yang berisi bahan korosi berkonsentrasi tinggi yang mendorong terjadinya korosi.
  6. Korosi pengelupasan (exfoliation corrosion)
    Korosi ini merupakan jenis korosi pengelupasan yang terjadi ketika serbuk-serbuk permukaan logam menguap sebagai akibat dari korosi yang terjadi pada batas serbuk di bawah permukaan. Jenis korosi ini banyak terjadi pada bagian-bagian mesin ataupun bagian bersiku yang kelembabannya lebih kecil dari udara normal.
  7. Korosi fret (fretting corrosion)
    Korosi fret merupakan hasil pergerakan kecil antara dua permukaan bertekanan tinggi. Tekanan tersebut menghancurkan segala pelindung alami logam untuk selanjutnya menghilangkan partikel logam pada permukaan. Gejala korosi fret diawali dengan perubahan warna pada permukaan. Pada tingkat yang sudah parah, korosi fret dapat menyebabkan retakan (crack).
  8. Korosi sela (interfay corrosion)
    Korosi sela terjadi ketika dua bagian tersambung tanpa sela jarak yang cukup diantaranya. Korosi ini bisa menyebabkan kerusakan pada kulit, retakan, kerusakan rivet dan kerusakan pada sambungan yang dihubungkan dengan baut (bolt) atau mur (screw). Hasil korosi kadang terlihat pada bagian luar bagian yang tersambung. Korosi yang terjadi akibat sela yang kurang terlindungi dapat disebabkan oleh korosi celah atau korosi dua logam berlainan.

    korosi sela pada mur
  9. Korosi galvanis (galvanic corrosion)
    Korosi galvanis disebabkan oleh adanya elektrolisis cairan diantara dua logam yang berlainan. Logam tersebut memiliki spesifikasi elektrokimia yang berbeda. Hal ini dapat diatasi dengan memperhatikan kombinasi logam yang memiliki spesifikasi elektrokimia tertentu sehingga adanyanya cairan bisa dinetralisir karena perbedaan potensial elektroda menghasilkan energi listrik kecil.
  10. Korosi intergranular (intergranular corrosion)
    Korosi intergranular menyerang partikel dari material. Biasanya terjadi akibat adanya elektrokimia yang disebabkan timbulnya elektrolit dan perbedaan komposisi kimia dari partikel logam.
  11. Korosi tegangan (stress corrosion)
    Korosi tegangan merupakan pengembangan dari korosi intergranular. Jenis korosi ini pada umumnya terlihat berupa retakan memanjang seperti rambut pada material.
  12. Korosi fatik (fatigue corrosion)
    Korosi fatik adalah bentuk dari korosi tegangan yang ditimbulkan oleh tegangan berputar, umumnya berasal dari tekanan luar logam. Korosi jenis ini ketika dilihat di bawah kaca pembesar akan terlihat hasil korosi berupa tanda hitam pada area yang retak (crack).

Semoga Bermanfaat,

Alradix Djansena, B.Eng., M.Eng.

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply