Budaya Unik Jepang: Malu Jadi Orang Malas

Budaya Unik Jepang: Malu Jadi Orang Malas

Bangsa Jepang terkenal di dunia internasional dengan kualitas produk dari barang-barang hasil produksi mereka. “Made in Japan” merupakan sebuah jaminan untuk produk-produk berkualitas tinggi khususnya produk elektronik dan otomotif yang merupakan komoditas andalan dari industri-industri di Jepang. Ternyata rahasia kesuksesan produk-produk Jepang ini salah satu kuncinya terletak pada kemauan orang-orang Jepang untuk bekerja keras. Seorang penulis esai Jepang, Eizaburo Nishibori telah merangkum mengenai alasan orang Jepang bekerja keras dalam suatu karya esainya yang berjudul “Nihonjin wa naze yoku hataraku no ka” atau “Why the Japanese Work So Hard” yang akan dibahas dalam artikel ini. Berikut adalah isi (terjemahan) dari esai Eizaburo Nishibori tersebut.

Sejak berakhirnya zaman perang, kita sering mendengar pernyataan dari orang-orang di luar Jepang bahwa barang-barang produksi dari industri Jepang telah mengalami perkembangan yang sangat baik khususnya dalam hal kualitas produk yang tidak mudah rusak serta layanan purna jual yang sangat cepat dan efisien. Alasan dibalik munculnya reputasi baik ini sangat terkait dengan jiwa “perfeksionis” orang Jepang. Dalam kata lain, orang Jepang akan merasa malu apabila ada hal yang tidak beres (kerusakan)/ cacat dalam produk yang mereka hasilkan. Keinginan untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang baik untuk pelanggan mereka telah menghasilkan reputasi yang baik di negara lain.

Hal ini bukan merupakan sebuah konsep yang datang ke Jepang dari negara Barat ketika Restorasi Meiji mulai berlangsung tahun 1868. Hal ini lebih berdasar pada cara berpikir orang Jepang sejak jaman dahulu. Konsep mengenai rasa “bangga” dan “malu” tidak hanya muncul dalam hal kualitas produk tetapi juga dala sendi-sendi kehidupan lainnya di masyarakat Jepang berupa aturan-aturan yang sangat penting yang harus ditegakkan dalam aktivitas sehari-hari masyarakat Jepang. Rasa malu atas kesalahan yang dilakukan terhadap orang lain dan atas kegagalan untuk melakukan tugas dengan baik telah mendorong munculnya upaya yang maksimal sehingga berdampak pada hasil-hasil produk yang berkualitas unggul. Kebahagiaan dalam melaksanakan suatu pekerjaan dengan baik turut berkontribusi dalam meningkatkan kebanggaan dalam suatu pekerjaan yang selanjutnya akan mendorong orang Jepang untuk berupaya dan berusaha lebih maksimal lagi.

Hal yang sama juga dapat kita temui dalam budaya kerja orang Jepang itu sendiri. Seseorang akan merasa malu apabila dalam suatu pekerjaan/kegiatan, dia bersantai-santai sementara ada orang lain yang bekerja keras. Rasa bersalah ini muncul dari ide dasar bahwa “bekerja itu baik, bersantai itu tidak baik”. Orang asing sering bertanya-tanya kenapa orang Jepang bekerja dengan sangat keras dan tekun. Tentu saja hal ini juga merupakan salah satu alasan memiliki budaya rajin dalam bekerja.

Orang Jepang juga memiliki rasa memiliki (sense of belonging) yang sangat kuat khususnya dalam hubungan keluarga dan wilayah kampung halaman, termasuk ketika orang Jepang telah bekerja disuatu perusahaan, maka mereka akan memberikan perlakuan yang sama yaitu sebagai suatu tempat dimana mereka harus kembali.

Di Jepang, adalah hal yang sangat lazim bagi seseorang untuk tetap bekerja hanya di satu perusahaan di sepanjang karir mereka. Hal ini merupakan suatu alasan kenapa rasa memiliki dalam suatu perusahaan sangat kuat. Ketika orang Jepang berbicara tentang perusahaan tempat mereka bekerja, maka mereka akan menyebut “perusahaan kami” atau “perusahaan saya”. Dan ketika ditanya tentang bidang pekerjaan mereka, adalah hal yang lazim apabila mereka memberikan penjelasan mengenai bidang pekerjaan mereka dengan menyebutkan nama perusahaan tempat mereka bekerja.

Orang Jepang senantiasa berupaya untuk tidak merasa “susah” ditempat mereka bekerja. Mereka bekerja dengan pemikiran bahwa budaya kerja yang baik akan memberikan keuntungan kepada mereka sendiri, dan hal-hal yang merupakan kebijakan dari perusahaan juga akan memberikan keuntungan bagi negara Jepang secara keseluruhan. Perusahaan juga senantiasa akan berusaha untuk melaksanakan perannya dengan melaksanakan hal-hal yang sangat penting untuk menjaga rasa memiliki diantara pegawai-pegawainya, dan hal ini biasanya ditumbuhkan melalui aktivitas-aktivitas kolektif sebagai satu perusahaan seperti rekreasi bersama dan kegiatan pertandingan olahraga.

Adalah suatu hal yang tepat untuk merujuk tipe manajemen perusahaan seperti penjelasan diatas sebagai perpanjangan tangan sistem tradisional kepegawaian di Jepang. Dalam sebuah perusahaan dagang tradisional di Jepang, kepala perusahaan dan pegawai perusahaan dianggap sebagai suatu keluarga oleh pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan akan menyiapkan akomodasi dan makanan serta menerima keluhan-keluhan dari pegawainya meski hal yang terkadang lebih bersifat pribadi. Pemilik perusahaan, kepala perusahaan dan pegawai perusahaan akan bekerja dalam suatu kesatuan sehingga dapat menghasilkan kesejahteraan dalam bisnis/usaha yang mereka jalankan.

Pada suatu keluarga yang merupakan keluarga pedagang, adalah merupakan hal yang lumrah apabila seseorang yang pernah bekerja dengan mereka, lalu beberapa tahun kemudian datang lagi untuk mengunjungi mereka, dan mereka akan dijamu untuk kurun waktu seminggu sampai 10 hari. Hal ini terjadi dikarenakan perasaan dan semangat yang sangat kuat akan adanya rasa kekeluargaan.

Hal-hal tersebut diatas merupakan gaya kepemimpinan perusahaan di Jepang yang menggunakan konsep dan sistem tradisional ditambah dengan pengenalan aktif mengenai hal-hal lain dari luar negeri Jepang setelah Perang Dunia II yang berdampak pada perkembangan industri Jepang yang sangat pesat dan reputasi yang baik terhadap produk-produk Jepang dalam kurun waktu yang relatif singkat sejak berakhirnya perang.

Negara Sekutu telah mengendalikan/mengontrol negara Jepang setelah era perang berakhir dan pada masa inilah orang Jepang banyak belajar mengenai sistem manajemen yang bersifat ilmiah (scientific) mengenai kendali mutu (quality control) dari negara Amerika Serikat. Pada saat bersamaan, keinginan kerja yang kuat, sifat rajin, rasa memiliki dan jiwa kekerabatan yang tinggi, konsep rasa malu dan rasa bangga, turut berperan dalam perkembangan industri di Jepang yang mana kesemuanya ini bersumber dari kepekaan perasaan masyarakat Jepang sebagai seorang manusia.

Dewasa ini, orang-orang diluar negeri Jepang mulai membicarakan bahwa Jepang adalah salah satu teladan dalam hal pengendalian mutu. Hal ini tentu saja merupakan hasil dari lingkungan kerja kondusif yang telah ada di Jepang dan dikombinasikan dengan teknik-teknik yang efektif dari luar negeri Jepang.

Demikianlah hal-hal yang menjadi alasan orang Jepang bekerja keras yang dipaparkan oleh Eizaburo Nishibori dalam esainya. Dalam artikel selanjutnya akan dibahas mengenai contoh nyata dari alasan orang Jepang bekerja keras khususnya dalam hal kecintaan masyarakat Jepang terhadap pekerjaan.

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply