Kebangkitan Supremasi Dirgantara Jepang

Kebangkitan Supremasi Dirgantara Jepang

Sejak digulirkannya referendum UU Pertahanan Jepang pada 2014, beberapa langkah restruktif telah dijalankan oleh Ministry of Defense (MoD) Jepang guna mendukung program yang mengarah pada perubahan kebijakan tersebut. Salah satunya adalah dengan mendorong pengembangan industri militer strategis dalam negeri yang selama ini selalu tertutup oleh kekangan aturan larangan ekspor serta sistem oligopoli yang cukup ketat.

Pada ranah kedirgantaraan yang penguasaan pasar maupun teknologinya masih didominasi oleh produk dari Amerika Serikat, MoD rupanya telah memberikan alokasi khusus guna mencapai peningkatan yang signifikan dengan memacu kapabilitas industri yang dititikberatkan pada pengembangan program pada helikopter, fixed-wing transport, pesawat intai/patrol serta pesawat tempur. Sasaran utamanya adalah terfasilitasinya industri dalam negeri untuk berinovasi, mengurangi celah perbedaan kapabilitas dan perwujudan efisiensi target.

p-1
Kawasaki Heavy Industry P-1 MPA

Sebut saja proyek pesawat intai maritim P-1 MPA yang mulai dioperasikan Japan Maritime Self Defense Force (JMSDF) sejak 2013, dan pada 2015, Kawasaki Heavy Industry (KHI) telah menerima kontrak untuk tambahan 20 unit pesawat lagi. Proyek ini mendobrak doktrin lama yaitu pengadaan alutsista dengan jumlah sedikit yang tidak efisien menjadi pengadaan skala besar yang mendukung optimalisasi produksi. Proyek pesawat C-2 pun mendapat imbas positif setelah amandemen penambahan jumlah pesanan segera paska delivery generasi pertamanya dimana formasi lengkap satu skadron udara pesawat C-2 ini diharapkan mampu terwujud pada 2020. Pada jenis helikopter, MoD telah menyepakati Joint Program berdasar model Bell 412 (twin-engine utility helicopter) yang dijadwalkan untuk diserahterimakan pada 2021. Bahkan, ada wacana yang beredar bahwa MoD tengah menyusun rencana untuk menjadikan program ini sebagai komoditi ekspor.

uh-x
Fuji Heavy Industry UH-X

Yang tak kalah gencarnya adalah pemberitaan tentang proyek prototype pesawat tempur taktis X-2 (pada awalnya diperkenalkan sebagai Advanced Technology Demonstrator-Experimental atau ATD-X) oleh Mitsubishi Heavy Industry (MHI) yang telah sukses uji terbang perdana pada bulan April 2016 lalu. Kolaborasi produksi antara MHI dan MoD ini telah berlangsung lebih dari satu dekade, dan diharapkan akan selesai pada dua atau tiga tahun mendatang untuk kemudian dilakukan pengkajian ulang guna pengembangan lanjutan serta produksi massal, meski dalam bentuk proyek yang baru. Sampai saat ini, ada sekitar 220 perusahaan yang terlibat dalam proyek X-2 ini dengan komposisi produk lokal (made in Japan) mencapai 90%, diantaranya meliputi bagian wings dan tail (FHI); cockpit, windshield dan pilot seat (KHI); serta XF-5 turbofan engine (IHI Corp). Beberapa perusahaan lokal juga turut andil dalam produksi flight control system dan special equipment, seperti air conditioner dan material komposit. Kesemuanya kemudian disatukan dibawah komando MHI yang memegang kontrol penuh atas desain, laju pengembangan serta integrasi sistem. Pihak MHI juga mengklaim bahwa tujuan utama pengembangan X-2 ini adalah menyusun pondasi bagi pengembangan industri kedirgantaraan Jepang, melalui penguasaan teknologi dan pemberdayaan sumber daya manusia, dimana pada 2011 MHI telah sukses mengakhiri proyek kerjasama proyek MHI F-2 dengan Lockheed Martin sejak tahun 1980an. Terakhir, MHI menambahkan agar proyek X-2 ini dapat memberikan efek ketok tular bagi perkembangan industri dirgantara Jepang, khususnya dalam pengembangan dan produksi pesawat militer.

Mitsubishi Heavy Industry ATD-X
Mitsubishi Heavy Industry ATD-X

Sebagaimana diberitakan, Jepang telah sepakat untuk membeli 42 unit pesawat F-35; 4 unit akan diproduksi penuh oleh Lockheed Martin, sedang sisanya akan diproduksi dibawah lisensi oleh industri lokal, meskipun tidak ada andil teknologi Jepang sama sekali pada program ini. Produksi pesawat rencananya akan dipusatkan di MHI Nagoya Aerospace System Works Komaki Minami Plant, sebagai final assembly and check-out (FACO). Dalam kerjasama proyek ini, MHI akan mendukung dari sisi airframe, IHI Corp mendapat bagian engine, sedangkan Mitsubishi Electric akan menangani produksi komponen elektronik. Ketiga produsen tersebut juga terlibat dalam FACO pada main wing, tail surface dan aft fuselage.

 

 

Sumber :

Air Review, No.876 Sep 2016 (Monthly, Japanese)

Jwings, No.217 Sep 2016 (Monthly, Japanese)

IHS Jane’s Defence Weekly, June 2016

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply