Isu-isu Strategis di Kawasan Indonesia

Isu-isu Strategis di Kawasan Indonesia
  1. Sengketa Wilayah di LTS disebabkan oleh program reklamasi Memanasnya isu sengketa di Laut Tiongkok Selatan dipicu oleh program reklamasi besar-besaran yang dilakukan oleh Tiongkok di wilayah tersebut. Tiongkok melakukan program reklamasi atas tujuh pulau di Laut Tiongkok Selatan. Program reklamasi tersebut juga meliputi pembangunan landasan pacu pesawat terbang yang rata-rata memiliki panjang lebih dari 3000 m. Secara jelas, Tiongkok telah melakukan militerisasi terhadap pulau-pulau yang dikuasainya di Laut Tiongkok Selatan. Sengketa tersebut juga dapat berpengaruh langsung terhadap Indonesia yang memiliki ZEE di Natuna dan terpotong oleh garis klaim Tiongkok nine-dashed lines di Laut Tiongkok Selatan.

 

  1. Eskalasi Ketegangan Semenanjung Korea disebabkan aktivitas Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS). Ketegangan di Semenanjung Korea telah mulai meningkat sejak insiden tenggelamnya kapal perang “Cheonan” milik Korsel pada tahun 2010 dan penembakan artileri Korut atas pulau-pulau yang dikuasai Korsel di perbatasan. Latihan militer bersama AS dan Korsel dipandang oleh Korut sebagai bentuk provokasi dan mengancam kedaulatannya. Korut menanggapinya dengan uji coba nuklir dan peluncuran rudal balistik. Korut juga telah menyatakan perang terhadap Korsel dan AS, menutup kawasan industri bersama di Kaeseong, mengerahkan unit-unit peluncur rudalnya di beberapa lokasi sepanjang perbatasan, melakukan uji coba rudal, serta melakukan mobilisasi, meskipun kedua Korea masih terus mengupayakan diplomasi.

 

  1. Sengketa Wilayah di Laut Tiongkok Timur adalah terkait dengan status kepemilikan atas pulau-pulau Senkaku. Pemasalahan utama sengketa di Laut Tiongkok Timur yaitu klaim kepemilikan atas pulau-pulau Senkaku (Diaoyu) antara Tiongkok, Taiwan dan Jepang. Di samping itu, Tiongkok juga memberlakukan Air Defence Identification Zone (ADIZ –zona identifikasi pertahanan udara) di Laut Tiongkok Timur yang beririsan dengan ADIZ milik Jepang dan Korsel.

 

  1. Bencana Alam dan Pemanasan Global ditandai dengan badai El Nino serta menipisnya lapisan o Bencana alam telah menjadi isu sepanjang masa, dengan tren yang cenderung meningkat. Gempa bumi, angin topan, tsunami, letusan gunung berapi, banjir dan longsor terus terjadi sepanjang tahun. Hal tersebut diperparah oleh pemanasan global yang ditandai dengan fenomena El Nino serta menipisnya lapisan ozon di atmosfer bumi. Fenomena el nino mampu memicu peningkatan jumlah titik-titik panas di berbagai wilayah sehingga dapat menimbulkan kebakaran hutan dan lahan kering lainnya yang berdampak secara regional mengganggu kesehatan dan navigasi.

 

  1. Krisis Yunani, kelesuan ekonomi global dan perang mata uang China dan Dollar AS mempengaruhi perekonomian dunia. Kelesuan ekonomi global dipicu oleh krisis utang di AS (2008) dan Eropa (2010). Sampai dengan saat ini, ekonomi dunia belum pulih dari krisis tersebut, bahkan Yunani dinyatakan menjadi negara bangkrut pada pertengahan tahun 2015. Di samping itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi juga melanda Asia. Namun demikian, upaya negara-negara di seluruh dunia untuk menghindari ataupun pulih dari krisis memiliki cara yang berbeda-beda. Saat ini mata uang Dollar AS terus menguat terhadap mata uang negara-negara lainnya termasuk Rupiah, sementara Tiongkok melakukan devaluasi Yuan (Renminbi) guna meningkatkan volume ekspornya sebagai cara mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi nasionalnya.

 

  1. Faktor intervensi asing masih menjadi isu pada konflik di Ukraina dan berbagai kawasan Timur Tengah. Konflik di Libya, Suriah, Iraq, Ukraina dan Yaman merupakan contoh bagaimana konflik internal menjadi teater proxy war bagi negara-negara yang berkepentingan, bahkan untuk melakukan intervensi langsung seperti yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap konflik di Yaman. Konflik-konflik tersebut sarat dengan kepentingan internasional yang meliputi persaingan pengaruh di kawasan, persaingan ekonomi dan akses terhadap kepentingan di negara-negara terkait.

 

  1. Transformasi Terorisme dan Radikalisme terjadi baik di negara Islam dan maupun negara Terorisme telah bertransformasi dan menjadi ancaman yang bersinergi dengan bentuk “”negara”, separatisme dan kekacauan di kawasan. Sebagai contoh yaitu kelompok Boko Haram (Nigeria), NIIS (Suriah-Iraq), Al-Shabaab (Somalia), Sementara fenomena radikalisme muncul dalam bentuk kekerasan seperti terjadi di Myanmar, Pakistan, dan negara-negara lainnya termasuk di Amerika, Australia dan Eropa.

 

  1. Penyelundupan dan peredaran Narkoba menjadi komoditas ekonomi Ilegal. Narkoba telah menjadi komoditas utama ekonomi ilegal sehingga jaringannya dan pasarnya terus menerus berkembang. Indonesia menjadi salah satu target pasar peredaran Narkoba sehingga mengancam produktivitas dan moralitas generasi muda bangsa. Penegakan hukum yang tegas terhadap terpidana Narkoba perlu disertai pencegahan yang efektif.
svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply