Debat Miss Nippon kelahiran Ukraina. Langkah Politik Atau sebuah Tanda Perubahan Pandangan Sosial Terhadap Identitas Orang Jepang?

Debat Miss Nippon kelahiran Ukraina. Langkah Politik Atau sebuah Tanda Perubahan Pandangan Sosial Terhadap Identitas Orang Jepang?

Berita Model kelahiran Ukraina yang memenangkan Miss Japan kembali memicu perdebatan tentang identitas, baik dari segi politik maupun sosial. Beberapa pendapat mengatakan “telah ada hambatan rasial, dan sulit diterima dirinya sebagai orang Jepang,” ucap Karolina Shiino dalam bahasa Jepang yang sempurna sambil berlinang air mata, , setelah dinobatkan sebagai Miss Japan pada akhir Januari 2024. Karolina Shiino merupakan model berusia 26 tahun itu, yang lahir di Ukraina dan pindah ke Jepang pada usia lima tahun, serta dibesarkan di kota Nagoya, memenangkan kontes kecantikan ini sebagai warga negara Jepang alami pertama. Namun, kemenangannya telah memicu kembali perdebatan tentang apa artinya menjadi orang Jepang, terutama dalam konteks budaya dan identitas. Sementara beberapa mengakui kemenangannya sebagai sebuah perubahan zaman, namun disii yang lain mengatakan dia tidak terlihat seperti “Miss Japan” seharusnya. Kemenangannya datang hampir 10 tahun setelah Ariana Miyamoto menjadi wanita campuran pertama yang dinobatkan sebagai Miss Japan pada tahun 2015, yang juga menimbulkan perdebatan serupa tentang identitas Jepang.

Dari perdebatan ini banyak kemudian muncul pandangan yang menunjukkan bahwa kemenangan Shiino adalah indikasi dari perubahan dalam pandangan masyarakat Jepang terhadap apa itu sebenarnya identitas nasional dan penerimaan terhadap individu yang memiliki latar belakang budaya yang beragam. Namun, bagi yang masih berpegang dengan pikiran tradisional di sisi lain, ada juga pandangan yang menyatakan bahwa kemenangan ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya identitas Jepang direpresentasikan dalam konteks kontes kecantikan ini.

Shiino dinobatkan sebagai Miss Japan 2024

Jika dianalisa, beberapa pihak berpendapat bahwa memilih model kelahiran Ukraina ini mungkin memiliki implikasi politik, terutama dalam konteks hubungan internasional antara Jepang dan negara-negara lain. Ada yang menganggap bahwa kemenangan Shiino adalah hasil dari keputusan politik yang mempertimbangkan faktor-faktor seperti citra internasional, hubungan diplomatik, dan narasi tentang inklusi budaya. Atau juga sekedar sebuah bentuk nekat dari dunia Pegeant Jepang untuk kembali bisa mengibarkan bendera jepang di Miss Universe yang mana terakhir kali dibawakan Riyo Mori tahun 2007 dan seolah setalah itu tidak adalagi miss Japan yang mampu maju menyandang ratu kecantikan no 1 di Dunia yakni Miss Universe.

Dari perspektif sosial, kemenangan Shiino juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana masyarakat Jepang mendefinisikan identitas nasional mereka. Beberapa menyambutnya sebagai langkah menuju masyarakat yang lebih inklusif dan terbuka terhadap keragaman, sementara yang lain merasa bahwa ini adalah bentuk pelepasan terhadap nilai-nilai dan tradisi Jepang. Dalam semua perdebatan ini, yang jelas adalah bahwa kemenangan Karolina Shiino sebagai Miss Japan telah memicu refleksi mendalam tentang identitas, budaya, dan nilai-nilai yang melekat dalam masyarakat Jepang, serta kompleksitas politik dan sosial di balik kontes kecantikan tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah gurubesar terkemuka, seperti Profesor Masafumi Iida dari Universitas Tokyo dan Profesor Yukiko Nishimura dari Universitas Kyoto, mendukung bahwa fenomena seperti ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam pemahaman tentang identitas dan kebangsaan di era globalisasi ini. Mereka menekankan pentingnya memahami keragaman budaya dan membuka diri terhadap perubahan dalam interpretasi tradisi dan nilai-nilai nasional.

Phenomena ini tidak dapat dibadingkan apple to apple dengan Indonesia yang merupakan negara dengan keberagaman suku bangsa dan budayanya. Namun kedepan permasalahan identitas ini jika terjadi di Indonesia akan menjadi sebuah polemik yang sama dengan maraknya politik identitas yang terjadi saat ini? ataukah masyarakat Indonesia sudah cendrung merangkul nilai inkusif sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply