Dinamika Kebijakan Energi Australia Mengancam Keamanan Energi Jepang.

Dinamika Kebijakan Energi Australia Mengancam Keamanan Energi Jepang.

Jepang dan Australia merupakan dua negara yang memiliki hubungan kemitraan energi dalam jumlah yang sangat besar. Kebutuhan sepertiga energi Jepang dalam beberapa dekade terakhir mendapat suplai energi dari negeri kanguru. Selain Australia, sumber energi Jepang yang paling penting berikutnya adalah Arab Saudi dengan 15 persen impor, Uni Emirat Arab dengan 12 persen, dan Rusia, Indonesia, dan Qatar masing-masing kurang dari 10 persen. Jepang dikenal dengan negara maju secara ekonomi dan teknologi namun kenyataannya Jepang memiliki ketergantungan energi yang mana 88 persen energinya bergantung dengan impor dari negara lain. Sehingga perubahan kebijakan energi yang terjadi Australia berpotensi memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan pemenuhan energi di Jepang.

Perubahan kebijakan energi Australia antara lain adalah karena adanya goal kebijakan energi untuk mencapai clean energy dalam transisi menuju zero emission 2050.  Hal ini juga mejadi sebuah janji politik partai buruh Australia yang saat ini memegang pemerintahan yakni mengejar kebijakan emisi serta meredakan tekanan harga energi dalam negeri yang melonjak akibat inflasi harga energi akibat dari perang Ukraina-Russia yang terjadi. Sehingga pemerintah melakukan intervensi berupa batasan harga gas dan batu bara sampai dengan jumlah ekspor energi. Selain itu kebijakan transisi energi yang terjadi di Australia juga menjadi faktor pendukung dinamika kebijakan energi di Australia. Transisi energi Australia ini menyebabkan ketidaksetabilan perdagangan energi dengan Jepang. Perubahan dan batasan pemasokan energi dari Australia menimbulkan kekawatiran pemerintahan Jepang dalam hal sustainability energy dalam negerinya.

Pada tahun 2023 duta besar Jepang untuk Australia, Yamagami, mengutarakan bahwa Australia dianggap sebagai pemasok energi yang berisiko terhadap keberlangsungan Perusahaan di Jepang. Hal ini juga dipertegas dengan pernyataan Takayuki Ueda, Presiden dan CEO perusahaan gas besar Inpex, yang mengkritik politisi dan pemimpin industri Australia, bahwa kebijakan gas Australia mampu mengancam kesetabilan dan kedamaian global. Sedangkan dalam jalur diplomatik, Jepang telah berkomunikasi dengan pemerintah Australia yang kemudian diberi tahu tentang sifat perubahan kebijakan tersebut dan bahwa hal itu tidak akan berdampak pada kontrak dan pasokan ke Jepang. Keprihatinan Jepang terus dikemukakan secara publik dan pribadi. Namun kekawatiran Jepang tidak mereda meskipun dijanjikan oleh Perdana Menteri Anthony Albanese dan jajaran menterinya bahwa Australia akan tetap menjadi pemasok energi yang stabil dan aman.

Permasalahan yang terjadi ini tidak dapat dianggap remeh karena diluar hubungan energi, Australia-Jepang memiliki hubungan strategis sebagai sekutu AS, yang mana hubungan ekonomi Australia Jepang juga tidak kalah penting. Karena keberlangsungan pasukan energi Jepang setiap harinya juga bergantung dalam hubungan tersebut.  Sehingga hubungan politik Jepang Australia pun diambang ketidakpastian.

Ketidakpastian kebijakan energi di Australia  telah berlangsung selama 15 tahun terakhir  menyebabkan kurangnya investasi baik dalam pembangkit energi terbarukan maupun ekstraksi bahan bakar fosil. Hal ini diperparah oleh peningkatan litigasi oleh aktivis lingkungan sekitar ekspansi proyek bahan bakar fosil dan pengembangan proyek baru. Tuntutan masyarakat Australia mengirimkan pesan jelas kepada partai politik bahwa mereka menginginkan aksi yang dipercepat pada kebijakan perubahan iklim, bahkan saat mereka mengelola harga energi yang lebih tinggi. Di sisi lain Australia membutuhkan modal asing untuk membantu membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk pertumbuhan populasi, kebutuhan energi domestik, dan untuk menjadi pengekspor energi hijau. Yang kemudian Australia juga telah terlihat dalam pendekatannya terhadap investasi China. Kehadiran China dalam sisi kemampuan modal, teknologi canggih, dominasi dalam mineral dianggap penting oleh Australia.

Dengan adanya faktor-faktor dan dinamika yang terjadi hubungan pemenuhan energi Jepang dengan Australia tidak dapat hanya diwujudkan malalui kekuatan pasar semata. Sangat perlunya ada upaya-upaya dalam meningkatkan hubungan bilateral, peningkatan investasi di bidang lain untuk dapat mempererat hubungan pemenuhan energi Jepang-Australia. Sehingga hubungan energi antara Australia dan Jepang harus dipikir ulang secara menyeluruh. Alih-alih Australia mengirimkan energi mentah ke Jepang, sekarang lebih murah dan lebih bersih untuk memproduksi bahan baku di Australia, dan mengekspor energi yang terkandung dalamnya ke Jepang dan lebih jauh lagi. Sehingga ini menjadi sebuah PR untuk agenda Tokyo dan Camberra untuk meningkatkan hubungan dan dialog kebijakan bilateral serta menjadi bahan untuk meninjau ulang Hubungan Japan-Australia kedepannya.

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply