Di Jepang, Makin Banyak Perempuan Berprofesi sebagai Petani

Di Jepang, Makin Banyak Perempuan Berprofesi sebagai Petani

Pertanian di Jepang bukan lagi ladang bisnisnya kaum laki-laki saja. Perempuan mulai meningkatkan kehadiran mereka di komunitas pertanian Jepang yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki. Berjuang keras dalam nilai-nilai yang berpusat pada laki-laki, sejumlah petani perempuan telah bersatu setelah menemukan cara untuk bertahan dan mengeruk untung dalam bisnis pertanian warisan keluarga ataupun dalam industri pertanian yang dijalani atas inisiatif mereka sendiri.

Sebut saja Chika Yasumaru, 30, yang mewarisi usaha pertanian keluarganya dan menanam melon di Kamifurano, Hokkaido. Sejak kecil Yasumaru memang ingin menjadi petani, dan setelah ia lulus dari sebuah universitas pertanian, dia kembali ke kampung halamannya untuk terjun ke dunia pertanian. Tapi masyarakat yang menunggunya adalah orang-orang di mana pria memainkan peran sentral. “Mereka mengatakan pada pertemuan petani setempat, bahwa perempuan harus menjadi istri petani. Mereka mengira saya pulang ke rumah bukan sebagai ahli waris tapi hanya karena saya telah gagal mencari pekerjaan dan menunggu saat menikah.” katanya.

Sejumlah perubahan terjadi empat tahun yang lalu, ketika Yasumaru mengenal Arisa Takagi, 28, seorang peternak sapi dari Kamishihoro, sebelah tenggara Kamifurano, dalam sebuah lokakarya yang diselenggarakan untuk para petani wanita. Kedua wanita langsung akrab dan menceritakan keprihatinan dan impian mereka. Pada bulan Desember 2013, mereka membentuk kelompok “Harapeko” – yang secara harafiah berarti “Gadis yang Kelaparan” – bersama dengan sekitar 20 petani wanita lainnya untuk saling menyemangati dan saling mendukung. “Apa yang pertama kali kami lakukan adalah mencari suami,” kata Yasumaru. Ia menekankan bahwa merupakan masalah mendesak bagi ahli waris wanita untuk mencari suami yang bersedia untuk masuk ke dalam keluarga istri.

Kelompok tersebut mengorganisir acara perjodohan dan Takagi menemukan suaminya, Hiroki, 26 tahun. Takagi, anak bungsu dari tiga bersaudara, memutuskan untuk mengambil alih lahan pertanian yang didirikan oleh kakeknya setelah kakak-kakaknya menikah dengan keluarga lain saat dia masih kuliah. Takagi mengatakan bahwa dia tidak pernah berencana untuk mewarisi bisnis pertanian keluarga, namun ia memutuskan untuk melakukannya setelah mendengar kakeknya berkata dengan sedih, “Baiklah, kita harus menutup pertanian kita.”

Setelah mulai bertani, Takagi merasa lebih sulit dari yang dia bayangkan. Kenyataannya adalah bahwa dia harus bangun sebelum fajar untuk memerah susu dan memberi makan sapi dan tinggal di gudang selama berjam-jam untuk merawat sapi yang telah melahirkan. “Pada tahun pertama, saya hampir tidak bisa menemukan waktu untuk meninggalkan pertanian,” katanya. Kira-kira setahun yang lalu Takagi menikahi Hiroki, yang juga dibesarkan di peternakan sapi perah. Dia tidak harus mengambil alih pertanian keluarganya karena dia adalah anak kedua. Biasanya anak sulung mewarisi bisnis keluarga di Jepang.

Selain perjodohan, kelompok Harapeko telah melakukan kegiatan lain, termasuk mengatur acara untuk berbagi pengalaman bertani dengan siswa perempuan di sebuah sekolah menengah pertanian. “Saya memiliki mimpi akan datang suatu hari ketika tidak ada bedanya apakah Anda pria atau wanita, sehingga kelompok seperti Harapeko tidak akan diperlukan,” katanya. “Tapi hingga saat itu tiba, kelompok ini akan terus berjalan”. Jumlah perempuan yang mulai bertani pada tahun 2015 kurang dari 16.000, menurut Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan.

Untuk membantu perempuan berkarir di pertanian, Yukiko Iwatate, 29 tahun, setelah mengumpulkan dana melalui pendanaan dari orang banyak, berencana untuk meluncurkan sebuah situs perjodohan online pada bulan Maret. Khusus untuk wanita yang tertarik pada pertanian dan petani laki-laki yang berjuang untuk menemukan pasangan. Iwatate, yang dulu bekerja di sebuah perusahaan keamanan besar, mengatakan, “Saya akan merekomendasikan menikahi seorang petani, jika seorang wanita ingin mencari nafkah di bidang pertanian”. Dia sendiri menyukai pertanian dan menikahi seorang petani, Masayuki, 36, pada 2014. Dia saat ini membantu dalam acara perjodohan di mana pria dan wanita memanen sayuran bersama. Sebuah acara yang diadakan pada bulan November di Matsudo, Chiba Pref., dihadiri oleh sekitar 30 pria dan wanita dan menghasilkan tiga pasangan.

Takayoshi Enomoto, 61, direktur organisasi nirlaba yang menyelenggarakan acara tersebut mengatakan, “Kisah seorang wanita seperti Nyonya Iwatate yang menikahi seorang petani sangat berguna, dan saya harap hal ini akan menginspirasi wanita lain untuk maju”.

Di tempat lain, para perempuan bekerja sama untuk memberikan dorongan pada pertanian lokal supaya menarik wanita agar berkecimpung di dunia pertanian, sehingga mendorong semakin banyaknya petani perempuan. Sekitar 40 petani perempuan di Prefektur Okayama bekerja sama dalam satu kelompok untuk memproduksi serta menjual sayuran dan makanan olahan mereka. Misa Fujii, 51, wakil direktur kelompok yang disebut “Okayama Nogyo Joshi” (gadis petani Okayama), mengatakan bahwa “Mungkin ada sedikit persaingan di kalangan wanita daripada pria karena mereka lebih suka saling mendukung”. Hisako Okamoto, 47, salah satu pemimpin Okayama Nogyo Joshi, mengatakan bahwa peternakan sekarang sebagian besar dikelola oleh keluarga inti dan dukungan diperlukan bagi para petani wanita untuk merawat anak-anak mereka.

Lebih dari 500 anggota saat ini ambil bagian dalam proyek “Farmer Girls” Kementerian, dibandingkan dengan tahun 2013 lalu yang hanya 37 anggota. “Saya kira wanita lebih memahami perspektif konsumen daripada pria,” kata seorang pejabat senior kementerian. Asumsi resmi didukung oleh sebuah studi Japan Finance Corp. yang menemukan usaha pertanian berskala besar cenderung lebih menguntungkan jika perempuan bergabung dengan manajemen.

Kaori Mitsumori, 51, seorang petani anggur dari Koshu, Yamanashi Pref., yang merupakan anggota badan penasihat pemerintah, memuji gerakan perempuan untuk memberdayakan diri mereka sendiri, khususnya dalam masyarakat petani Jepang yang masih terdapat “sifat feudalistik” yang menganggap wanita harus menjaga rumah dan menggantungkan hidupnya kepada suami. “Apa yang dibutuhkan wanita dalam bertani hanyalah akumulasi pengalaman,” katanya. “Saya harap mereka saling mendorong dan tumbuh bersama”.

Sumber :  https://www.japantimes.co.jp/news/2017/01/01/national/women-taking-farming-japan/#.WdJO70yB0ci

svg

What do you think?

Show comments / Leave a comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply